Rabu, 15 Oktober 2008

Bank crisis to dominate EU talks

From : BBC NEWS 15 October 2008

A multi-billion-euro rescue scheme for Europe's ailing banks is set to dominate an EU summit in Brussels.

The 27-member bloc is expected to rally behind plans agreed on Sunday by officials from the 15-nation eurozone.

Stocks markets have recovered some ground since then, but remain nervous because of worries over a recession in the US and Germany.

Environmental groups are fearful that the economic crisis will derail EU plans to tackle climate change.

Regulatory rethink?

Markets across Europe rallied after eurozone governments last Sunday pledged around $3 trillion (£1.7 trillion) to restore confidence in the banking system.

However, EU leaders have warned that it is too early to declare this crisis over.

"This is and remains work in progress. We see light at the end of the tunnel but we are not yet there," Mr Barroso said.

On Tuesday, recession fears pushed US share prices lower despite a $250bn (£143bn) government bank rescue plan.

Asian and European stock markets also lost ground following two days of dramatic rises, and a report suggested Germany, the EU's biggest economy, was on the verge of recession.

Speaking to reporters on Wednesday ahead of the meeting, UK Prime Minister Gordon Brown said the International Monetary Fund (IMF) should be "rebuilt" to help regulate the world's financial systems.

He also called for the creation of an early warning system for the international economy and for more cross-border supervision of multinational financial companies.

Mr Barroso said earlier that there was a need to rethink regulatory and supervision rules for the financial markets, as well as limits on executive pay.

Eurozone leaders, meeting under the chair of the French, who hold the current presidency, are expected to brief their EU colleagues on their rescue plans.

France, Germany, the Netherlands, Spain and Austria are planning to guarantee bank lending, provide short-term liquidity and partly nationalise some banks, in schemes modelled on the UK's £500bn (640bn-euro) bail-out package.

However, the commission must scrutinising each country's plan to ensure they do not disadvantage other EU member states or violate EU competition laws.

The packed agenda for the two-day talks also includes:

• Leaders are expected to sign an immigration pact, committing their countries to common principles for handling immigrants.

• A decision to revive the failed Lisbon treaty, meant to give the EU more stable institutions in difficult times, is expected to be put on the back-burner until December.

• Talks on a new EU-Russia partnership treaty have been postponed, amid continuing concern about Russia's military presence in Georgia. There are divisions in the EU about when to resume them.

Climate shift

The EU meeting was originally due to focus on climate change.

Italy, Germany and Poland have argued that existing targets for reducing greenhouse gas emissions would impose extra burdens on electricity generators and carmakers, as an economic slowdown looms.

Environment Commissioner Stavros Dimas told the BBC's environment analyst Roger Harrabin that member states should be able to trade away more than half of their responsibilities for cutting greenhouse gas emissions by getting developing countries to install clean technologies on their behalf.

The European Commission originally proposed that member states should be able to trade no more than a third of their responsibilities.

The new proposal is highly controversial and will be resisted by the European Parliament because it has emerged that some of these clean technology projects would have been built anyway - in those cases, there is no carbon saving.

Some member states will also resist any trading over 50% for fear that it will undermine Europe's credibility on climate change, our correspondent says.

And the head of the European Commission, Jose Manuel Barroso, warned that the EU's ambitious plans should not be hijacked by concerns about economic costs.

"Climate change does not disappear because of the financial crisis. Tackling climate change is central to Europe's future prosperity," he said.

If Europe were to give up its leading role on climate change, "there will be less incentives of others to follow", he added.



Kontak Senjata Meletus di Perbatasan Thailand-Kamboja

From : Kompas 15 Oktober 2008

PHNOM PENH, RABU - Kontak senjata antara tentara Thailand dan tentara Kamboja meletus di perbatasan kedua negara di dekat Kuil Preah Vihear, Rabu (15/10) siang waktu setempat. Demikian dikatakan seorang pejabat Kamboja, Hang Soth.

"Tentara Kamboja dan Thailand saling menembak sekarang. Pasukan kami mencegah pasukan Thailand memasuki wilayah kami, tetapi mereka mulai menembak ke arah tentara kami," kata Brigadir Bun Thean dari lokasi perbatasan.

Kedua negara sama-sama mengklaim kepemilikan atas tanah di sekitar kuil Hindu, Preah Vihear, seluas 4,6 kilometer persegi. Pengadilan Internasional telah memutuskan kuil tersebut menjadi milik Kamboja, tetapi status tanah di sekitarnya belum jelas.

Perdana Menteri Thailand Somchai Wongsawat memerintahkan warga negara Thailand di Kamboja untuk meninggalkan negara itu secepatnya. Thailand juga telah menyiagakan pesawat tempurnya yang bisa segera dikerahkan jika sewaktu-waktu pecah pertempuran.

Militer Thailand dan Kamboja telah berhadap-hadapan selama beberapa pekan menyusul meningkatnya ketegangan setelah UNESCO menyetujui usulan Kamboja untuk memasukkan Preah Vihear ke dalam daftar Warisan Dunia , Juli lalu. Tentara kedua pihak telah ditarik pada pertengahan Agustus. Namun, ketegangan kembali timbul setelah kedua negara saling tuding tentara pihak lain melanggar perbatasan.



Pameran Buku Terbesar Angkat Sastra Turki

From : Jawa Pos 15 Oktober 2008

LONDON - Frankfurt Book Fair 2008 resmi dimulai kemarin (14/10). Agenda pameran buku tahunan terbesar di dunia tersebut tahun ini mengangkat topik utama tentang kesusastraan Turki. Berbagai karya sastrawan negeri yang terletak di dua benua itu, termasuk karya pemenang Nobel Sastra 2006 Orhan Pamuk, dipamerkan dan dibahas mendalam selama pameran yang akan berlangsung hingga 20 Oktober tersebut.

Jelang pembukaan even yang dihadiri penulis terkemuka Brazil Paulo Coelho itu, penyelenggara Frankfurt Book Fair merilis hasil megasurvei tentang kesiapan publik dunia menyambut era buku digital atau e-book. Dalam survei yang melibatkan lebih dari seribu profesional industri buku asal sekitar 30 negara tersebut, diketahui bahwa publikasi buku secara digital lebih diminati sekarang. Lebih dari 70 persen responden menyatakan sudah sangat siap menghadapi era e-book.

Kalangan penulis sama siapnya menyambut era baru itu. Paulo, misalnya, menganggap kemajuan teknologi internet tersebut sebagai suatu keuntungan. "Memublikasikan isi buku secara gratis lewat internet justru akan mendongkrak penjualan," tuturnya.

Pengarang The Alchemist dan Eleven Minutes tersebut bahkan mulai menyebarluaskan karyanya dalam bentuk digital secara gratis. "Buktinya, penjualan buku-buku saya di Rusia langsung meningkat," lanjut pria Brazil yang didaulat membuka pameran bergengsi itu kemarin.

Namun, 66 persen responden yakin bahwa era e-book dan e-reader belum akan terjadi dalam waktu dekat. Hingga lima tahun ke depan, publikasi buku secara tradisional masih akan mendominasi. "Sekitar tujuh persen responden berpendapat, e-book baru akan menjadi sumber penghasilan terbesar industri buku pada 2013," tutur penyelenggara dalam newsletter yang mereka publikasikan. (Rtr/CBSNews/hep/ttg)



Kenaikan Harga Saham Berlanjut Eropa Minta Regulasi Pasar Uang Harus Diperkuat

From: Kompas Cetak 15 Oktober 2008

PHNOM PENH, RABU - Kontak senjata antara tentara Thailand dan tentara Kamboja meletus di perbatasan kedua negara di dekat Kuil Preah Vihear, Rabu (15/10) siang waktu setempat. Demikian dikatakan seorang pejabat Kamboja, Hang Soth.

"Tentara Kamboja dan Thailand saling menembak sekarang. Pasukan kami mencegah pasukan Thailand memasuki wilayah kami, tetapi mereka mulai menembak ke arah tentara kami," kata Brigadir Bun Thean dari lokasi perbatasan.

Kedua negara sama-sama mengklaim kepemilikan atas tanah di sekitar kuil Hindu, Preah Vihear, seluas 4,6 kilometer persegi. Pengadilan Internasional telah memutuskan kuil tersebut menjadi milik Kamboja, tetapi status tanah di sekitarnya belum jelas.

Perdana Menteri Thailand Somchai Wongsawat memerintahkan warga negara Thailand di Kamboja untuk meninggalkan negara itu secepatnya. Thailand juga telah menyiagakan pesawat tempurnya yang bisa segera dikerahkan jika sewaktu-waktu pecah pertempuran.

Militer Thailand dan Kamboja telah berhadap-hadapan selama beberapa pekan menyusul meningkatnya ketegangan setelah UNESCO menyetujui usulan Kamboja untuk memasukkan Preah Vihear ke dalam daftar Warisan Dunia , Juli lalu. Tentara kedua pihak telah ditarik pada pertengahan Agustus. Namun, ketegangan kembali timbul setelah kedua negara saling tuding tentara pihak lain melanggar perbatasan.



N Korea 'sex spy' Jailed in South

From : BBC NEWS 15 October 2008

A North Korean woman has been sentenced to five years in a South Korean prison for spying, say reports.

Won Jeong-hwa, 34, admitted seducing military officers in exchange for classified information on the location of important military installations.

Investigators have also accused her of scheming to murder intelligence agents using poison-tipped needles, though the plot did not go ahead.

North Korea has denied she is an agent, calling her "human scum".

It has accused the South of fabricating the case for propaganda purposes.

'Defector'

Won - unsmiling but calm, dressed in green prison uniform with her hair in a ponytail - was sentenced on Wednesday in a court in Suweon, south of Seoul.

The headline-grabbing case came to light in August, when Won was arrested along with her stepfather Kim Dong-sun.

According to AFP news agency, she had come to South Korea in 2001, in the guise of a defector from the North, and was tasked by its National Intelligence Service with touring military units to give anti-communist lectures.

She used the occasions to contact army officers, AFP quoted investigators as saying, some of whom she slept with in exchange for secret information.

The agency reported that she was also found guilty of involvement in the kidnapping of a South Korean businessman from China to her authoritarian homeland in 1999, and of trying to trace the whereabouts of a top defector, Hwang Jang-yop, living in the South.

Won could have faced life behind bars. But the judge passing sentence cited her confession, co-operation with investigators, and expressions of remorse.

Her stepfather, 63, is also being prosecuted on spying charges.

Won's work as a spy has not been admitted by the North, which accuses the South of creating a charade for propaganda purposes.

Despite apparent advances in six-party negotiations over North Korea's nuclear programme, North-South bilateral relations have chilled since South Korea's conservative president came to office. He has adopted a harder line towards the North.



Spionase 'Bersenjata' Seks Divonis 5 Tahun

From: Kompas 15 Oktober 2008

SEOUL, RABU — Seorang wanita Korea Utara yang dituduh sebagai mata-mata divonis lima tahun penjara oleh Pengadilan Distrik Suwon, Korea Selatan, Rabu (15/10).

Won Jeong Hwa, nama terdakwa itu, ditangkap pada Juli 2008 dengan tuduhan membocorkan informasi kepada Korut, termasuk informasi tentang instalasi militer utama Korsel, daftar pembelot Korut, dan informasi pribadi para pejabat militer Korsel.

Jaksa penuntut umum mendakwa Won menggunakan seks sebagai senjatanya dalam menjalankan misi spionasenya. Ia menjalin hubungan kasih dengan seorang pejabat militer Korsel untuk memuluskan aksi. Dalam penyelidikan, Won juga berupaya membunuh agen intelijen Korsel dengan jarum beracun. Namun, rencana jahat ini urung dilaksanakan.

Won adalah Korut kedua yang ditangkap di Korsel dalam 10 tahun terakhir. Kisah Won yang mirip skenario film itu menarik perhatian media di sana. Sejumlah media menjulukinya Mata Hari, yakni penari yang menjadi mata-mata selama Perang Dunia I.

Kasus Won membuat hubungan Korsel dan Korut kian memanas. Negara Komunis Korut dengan geram menuduh Korsel berusaha mempolitisasi kasus ini untuk merusak citra Korut. Dua negara itu terlibat Perang Korea pada 1950-1953. Secara resmi keduanya belum mengadakan gencatan senjata sehingga secara teknis masih terlibat perang.



Senin, 13 Oktober 2008

Modernisasi Thailand Berawal di Jawa

From: Kompas 14 Oktober 2008

Oleh : Iwan Santosa

Kehidupan dan kemajuan Pulau Jawa akhir tahun 1800-an dan awal 1900 ternyata menjadi inspirasi bagi modernisasi Kerajaan Siam (Thailand) yang kini menjadi salah satu pelaku industri otomotif, pertanian, perkebunan, serta produk pangan olahan kelas dunia.

Semua itu berawal dari kunjungan Raja Rama V atau Raja Chulalangkorn yang dikenal sebagai pembaru Siam ke seantero Pulau Jawa pada tahun 1871, 1896, dan 1901. Raja Chulalangkorn adalah putra sulung Raja Mongkut atau Raja Rama IV yang dikenal dalam film legendaris Anna and the King.

Kunjungan Raja Chulalangkorn diabadikan di utara Kota Bandung di kaki air terjun Dago. Raja Chulalangkorn yang menghadiahkan patung gajah di Museum Nasional, Jakarta, menorehkan nama dalam prasasti di batu besar di kaki air terjun. Putra Raja Chulalangkorn, Raja Rama VII atau Raja Prajadiphok, juga singgah di air terjun Dago pada 12 Agustus 1929 dan meninggalkan prasasti serupa.

Dua buah gazebo kayu berarsitektur Thailand warna merah, hijau, dan kuning emas sudah berdiri menaungi dua prasasti peninggalan Raja Chulalangkorn dan Raja Prajadiphok. Gazebo tersebut menambah indah pemandangan air terjun Dago yang mengalir deras.

Atase Kebudayaan Kedutaan Besar Thailand untuk RI Sombat Khattapan mengatakan, prasasti itu merupakan tanda persahabatan kerajaan Siam dengan masyarakat Jawa dan Indonesia.

”Raja Chulalangkorn belajar banyak dari keberadaan infrastruktur dan industri modern di Jawa zaman itu, seperti kereta api, jalan raya, hingga perkebunan yang menjadi tulang punggung ekonomi Thailand sekarang. Setelah beliau kembali ke Siam, pelbagai perintah untuk membangun jaringan kereta api, perintisan perkebunan karet, hingga pelebaran jalan ukuran dikerjakan serius setelah membuat catatan secara detail segala segi kehidupan di Pulau Jawa,” kata Sombat.

Diminati wisatawan

Imtip Suharto, warga Bandung yang secara teratur datang ke air terjun Dago, menyayangkan banyaknya sampah di air terjun Dago yang hanyut dari hunian warga di daerah hulu. Padahal, air terjun tersebut dapat menjadi magnet bagi wisatawan mancanegara, seperti Belanda hingga Thailand. Khususnya bagi bangsa Thai, situs peninggalan para raja dari dinasti Chakri selalu dihormati dan dikunjungi secara berkala. ”Sayang kalau situs ini rusak. Bahkan, papan penanda situs dari besi juga rusak digergaji,” kata Imtip.

Imtip yang juga menulis Journeys to Java by a Siamese King mencatat betapa Raja Chulalangkorn menjalin hubungan baik dengan penguasa Jawa dari semua keraton yang ada di Yogyakarta dan Surakarta. Beliau juga bersahabat dengan keraton- keraton di Cirebon, Jawa Barat.

Berdasarkan data yang diolah Imtip dari pelbagai sumber, sungguh layak jika Raja Chulalangkorn belajar dari Pulau Jawa. Kala itu, galangan kapal terbesar di dunia terdapat di Surabaya. Pelbagai industri dari usaha kecil menengah pembuatan topi hingga permesinan dikunjungi lalu dicatat secara detail untuk dikembangkan di kerajaan Siam (nama kerajaan Thailand baru resmi digunakan tahun 1940-an).

Kini bangsa Thailand menikmati buah dari proses studi banding ke mancanegara hingga Eropa-Amerika yang diawali di Pulau Jawa. Peresmian situs air terjun Dago seharusnya menjadi cambuk bagi bangsa Indonesia untuk bangkit kembali di semua bidang dan kembali menjadi panutan bagi bangsa lain.